Karena kamu diharapkan dapat mengendalikan kebebasanmu bukan kebebasan yang dapat mengendalikanmu.

AKU DAN IKATANKU

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hallo semua udah kenal aku belum? Belum lah ya pastinya, emang ngga terkenal sih soalnya aku bukan artis atau public figure hehe, lagipula emang aku hanya manusia biasa-biasa aja, ngga punya kelebihan apa-apa hiks. Tapi boleh lah ya aku kasih tau biar kalian kenal sama aku, namaku Khafidhotul Uliyah biasa di panggil Uliya. Mungkin namaku memang terdengar cukup sulit diucapkan, tapi mudah diingat kok wkwk. 

Nah sekarang udah kenal kan hehe. Mulai aja deh ya, disini aku hanya ingin menceritakan sekelumit perjalananku. Kira-kira perjalanan kemana nih? Ngga kemana-mana sih soalnya aku juga bukan musafir hehe. Lebih tepatnya aku ingin berbagi pengalamanku dengan Ikatanku. Ikatan apa hayo? Yang jelas ini cerita tentang Aku dan Dia. Dianya siapa kira-kira coba tebak? Hehe dianya ya Ikatanku itu. 

Mengapa kusebut Ikatan karena memang aku sudah terikat bahkan sekarang sedang dan masih terikat. Tapi ikatan ini tidak mengekangku atau bahkan menyakitiku kayak disandera gitu loh ya. Aku terikat sejak tahun 2017, ketika semester satu, dan sekarang aku mau jalan semester enam. Bisa itung sendiri lah ya, waktu yang menurutku sudah cukup lama untuk mengenal Dia. Tapi karena aku belum cukup mengenal terlalu dalam maka aku masih ingin terikat seperti sekarang ini. 

Cukup tak masuk akal memang, bagi kebanyakan orang yang menginginkan kebebasan, tapi aku malah memilih terikat seperti sekarang. Emm tapi bukan tanpa alasan loh ya, aku berani mengikat diriku untuk suatu hal, yang jelas aku juga memiliki tujuan. Sebenarnya aku juga menginginkan kebebasan, tapi dengan terikat seperti ini bukan berarti aku tak punya kebebasan, aku masih bisa bebas kok. Dalam artian bebasku masih dalam batas, karena adanya sebuah ikatan ini. 

Ikatan yang tak membiarkanku keluar dari jalur. Ikatan yang mengajarkan bahwa kebebasan juga memiliki batas. Karena kamu diharapkan dapat mengendalikan kebebasanmu bukan kebebasan yang dapat mengendalikanmu. Jadi ikatan ini menjadi alarm pengingat ketika aku mulai tak bisa mengendalikan kebebasan. Udah lah ya basa-basinya, aku akan mulai bercerita tentang perjalananku bersama ikatanku dari semester satu. Dimana hal ini merupakan awal dari semuanya. 

Masih sangat jelas dulu ketika aku mulai menapakkan kaki di Universitas Muhammadiyah Magelang. Aku mulai masuk dunia perkuliahan di bulan Oktober tahun 2017. Aku memilih Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan Jurusan Akuntansi. Emm terus kapan aku mulai mengenal Dia? Sebenarnya sebelum masuk ke Universitas ini, aku sudah mengenalnya, namun hanya sekilas, hanya mengetahui namanya saja. Entah mengapa aku memiliki rasa ketertarikan tersendiri untuk mengenal lebih dalam. Oleh karena itu aku membuat keputusan untuk terikat demi lebih mengenalnya. 

Memang untuk mengikatkan diri dengannya tak semudah yang kita bayangkan. Untuk lebih mengenal, aku harus melewati beberapa langkah yang mungkin bagi sebagian orang itu cukup melelahkan atau ribet, tapi apa daya itu sudah menjadi keputusanku yang mana aku harus berani dan memiliki komitmen terhadapnya. 

Pertama-tama aku harus mengisi formulir, kemudian tahap selanjutnya bisa disebut dengan screening dimana dalam hal ini kita diharapkan dapat mengemukakan alasan apa yang mendasari aku masuk dalam sebuah ikatan. Emm masih tersimpan di memoriku, alasan aku ingin mengikatkan diri dalam ikatan ini adalah ingin lebih mengenal dan menjadi pribadi yang lebih baik. 

Makna yang menurutku sangat luas, lebih baik seperti apa pula pun tak tahu, hanya intinya aku ingin lebih baik lagi, lagi, dan lagi. Bukan berarti aku mengklaim bahwa diriku sebelumnya sudah baik loh ya, karena baik sendiri kan relatif, pandangan orang pun berbeda-beda. Bahkan definisi orang tentang baik sendiri itu apa juga pasti berbeda. 

Akan tetapi intinya disini aku hanya ingin berproses menjadi pribadi yang baik, itu aja sih. Seperti potongan ayat dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’du ayat 11 yang menginspirasiku dengan arti “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum kaum tersebut mengubah keadaannya sendiri”. 

Hehe udah dulu ya, kan aku tadi juga udah bilang hanya manusia biasa yang tak punya kelebihan apa-apa. Aku hanya ingin berbagi cerita. Tunggu ya kelanjutan dari ceritaku dan ikatanku ini, tentu banyak sekali pengalaman di dalamnya, baik suka maupun duka. Terima kasih untuk teman-teman yang bersedia menyempatkan waktunya membaca cerita ini, semoga kita selalu dalam lindungan-Nya. Biilahi fii sabililhaq Fastabiqul Khairat, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

B E R S A M B U N G . . .